[YiMei] I HATE YOU ZHANG YIXING!!!

I Hate You Zhang Yixing!!!

Title : I HATE YOU ZHANG YIXING!!!

Author : Margaretha Lidyana

Cast(s): Zhang Yixing; Zheng Meizhu [OC]

Length : Drabble

Genre : Romance

Rating : T15

Disclaimer : This fanfiction is mine, but I don’t have any cast(s) here except the OC(s). No copy, paste, and that sort of thing. Thanks to readers, for review, even for silent reader. OOC.

***

“Mei, makan dulu, yuk,” ajak Yixing yang duduk di sebelah Meizhu.

Bu yao. Makan saja sendiri.” Tangan Meizhu terus menari-nari di atas jari keyboard netbooknya.

“Kau kan baru makan dua kali hari ini, makan, yuk, nanti sakit, gimana?”

“Biarin, mau sakit mau sehat sama saja, ‘kan, Gege juga tidak akan repot mengurusku.” Matanya tidak sedikit pun melirik Yixing.

Hari ini mood menulisnya sedang baik, walaupun ia masih kesal pada Yixing karena Yixing pernah membuat lagu untuk mantannya—yang sebenarnya belum ada sumber terpercaya. Tentu saja, Meizhu tidak akan terang-terangan mengatakannya pada Yixing, mereka tidak ada hubungan khusus.

Aiya, Meizhu, ayolah…”

Bu yao! Wo shuo wo bu yao’! BU YAO!” Meizhu mengerang kesal, detik kemudian ia beranjak dari tempatnya lalu ke dapur, memasak mi instan. Hari ini orangtua dan adik Meizhu sedang pergi keluar kota, jadi Yixing boleh menginap di rumah, berhubung orangtua Meizhu sudah mengenal Yixing, dan orangtua Yixing, tentu saja, statusnya adalah teman.

Sudah menjadi kebiasaan Yixing menggunakan kaos dalam saja, begitu pula malam ini, padahal saat datang Yixing menggunakan jaket melapisi kaus dalamnya, dan celananya hanya sebatas lutut—celana santai. Herannya, Meizhu justru sudah mengenakan piyama lengan panjang, kontras dengan Yixing.

Yixing mengikuti Meizhu, mencoba membantu Meizhu, namun yang ia dapatkan justru bentakan dari Meizhu. Hari ini Meizhu aneh, apa dia sedang PMS? Walaupun seharusnya Yixing mengerti keanehan, kelabilan, dan hal menyebalkan dari Meizhu, namun hari ini sepertinya berbeda.

“Aku pinjam netbookmu, ya.” Setelah mendapat jawaban super singkat dari Meizhu, Yixing kemudian kembali ke kamar Meizhu, mengutak-atik netbook Meizhu.

Meizhu hanya diam sembari menunggu masakannya matang. Sesekali terdengar makian dan dengusasn kesal. Meizhu pun makan secepat yang ia bisa. Setelah mencuci piring, Meizhu kembali ke kamar, kemudian mendapat firasat aneh.

Yixing terlihat santai dengan ponselnya. Meizhu pun mengecek keadaan netbooknya. Pada awalnya, ia merasa tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, detik kemudian ia menyadari TIDAK ADA APLIKASI YANG TERBUKA, KOSONG, SEPERTI BARU NYALA ATAU HENDAK DIMATIKAN!!! Maata Meizhu terbelalak, kemudian membuka Microsoft Wordnya, mengecek filenya, tidak ada, dan tidak ada recovernya.

“Kok… datanya hilang semua….”

Dui bu qi, tadi karena not responding, jadinya aku matiin, terus nyalain lagi.”

Mata Meizhu membulat. Bagaimana bisa Yixing berkata dengan begitu mudahnya…

Meizhu mengerang. “I HATE YOU, ZHANG YIXING, SUCKS!!!!” teriak Meizhu kesal, karena terlalu emosi ia bahkan tidak memanggil Yixing dengan hormat. Kemudian air mata mengalir. Meizhu tidak mau menatap Yixing. Sejak tadi ia cenburu, dan sekarang ditambah, Yixing telah menghancurkan apa yang telah susah payah Meizhu buat.

Dui bu qi, Mei, dui bu qi…”

“Mau minta maaf juga tidak akan kembali tulisannya! Mau kau tulis ulang juga tak akan sama! Kau pikir membangun feeling yang tepat mudah! Gege juga kesal, ‘kan, kalau sampai bahan composingnya hilang! Huh!”

Meizhu menangis tidak berhenti, terisak. Yixing berusaha menenangkan Meizhu, tapi justru memperburuk keadaan. Buat Meizhu, mengusik hobi, kesukaannya terhadap bidang menulis sangat-sangat menyebalkan, apa lagi jika sampai tulisannya hilang! Moodnya hancur lebur! Bayangkan, sudah susah payah dibuat, kemudian dengan tanpa dosa dihilangkan begitu saja! Sangat sangat menyebalkan!

Yixing mencoba menelepon Luhan yang mungkin lebih berpengalaman dalam hal ini. Namun, setelah menceritakan keadaannya, Luhan hanya berkata, “Kau kan lebih mengenal Meizhu, mengapa harus aku?” Kemudian sambungan diputus begitu saja oleh Luhan.

Cukup lama Meizhu menangis, membanting ponselnya ke kasur, memukul Yixing dengan bantal, memukul langsung punggung Yixing dengan telapak tangannya—Meizhu sudah tidak peduli Yixing mengidap hemofilia atau tidak, Yixing juga tidak pernah mengatakannya pada Meizhu. Bahkan rambut Yixing juga menjadi sasaran Meizhu. Meizhu juga menendang apa saja yang ada di sekitarnya. Beruntung, kamar itu hanya dibuat menjadi kapal pecah, tidak ada benda apa pun yang rusak, hanya sepertinya pakaian Yixing sudah kusut, rambutnya juga sangat berantakan, jika tetangga melihat, pasti akan mengira hal yang tidak-tidak telah terjadi pada artis papan atas dengan anak remaja.

Yixing sudah bersiap untuk berlindung dari serangan Meizhu yang bisa datang kapan saja, berhubung kepala Meizhu ada di atas pangkuan Yixing—menangis sejak tadi. Tangan Yixing mengelus rambut Meizhu. Lelah menangis, Meizhu akhirnya tertidur. Menyadari keadaan kamar yang sangat… horor, thriller, dan tidak dapat dideskripsikan dengan jelas, Yixing menggendong Meizhu ke ruang tamu, dan dengan kecepatan kilat Yixing membereskan kamar, lalu mengembalikan Meizhu ketempat seharusnya.

Melihat netbook Meizhu yang masih menyala, Yixing mendapat ide, ia menulis sebuah puisi—mungkin lirik lagu. Well, tidak sebagus Kris, tapi mungkin cukup untuk ‘target’ selanjutnya.

END

Bu yao : Tidak mau

Wo shuo wo bu yao : Aku bilang aku tidak mau

Dui bu qi : Maaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s